Sunyi. Sepi. Semu. Sendiri.
Awal. Aku. Acuh. Akhiri.
Esa. Erat. Endap. Emosi.
Lemah. Lara. Letih. Lari.
Kekal. Kamu. Kesal. Kembali.
Awal. Aku. Acuh. Akhiri.
Harap. Hasut. Hampa. Hadapi.
Nama. Nilai. Nada. Notasi.
Awal. Aku. Acuh. Akhir.
Izrail berkata “Besok kamu akan mati. Apa hal terakhir yang akan kamu lakukan?” Sang Pemuda terdiam dan kemudian mengambil pisau dari laci dapur. “Kau salah!” serunya sambil menggoreskan pisau tersebut pada pergelangan tangannya. Dia mati seketika.
God, please bring us back Nike Ardilla.. And we will give you SYAHRINI!!!
(Source: lyked)
Kamu Utara dan aku Selatan.
Kita berjalan berlawanan.
Tapi bumi itu bulat.
Kita akan bertemu suatu saat.
Kata orang hidup itu pilihan. Dan ketika kita telah memutuskan satu pilihan, maka kita akan dihadapkan dengan pilihan yang lain. Ibarat lagi maen game simulasi “yang tinggal klik-klik doang” #PervAlert. Untuk mencapai suatu kenikmatan tujuan, banyak variasi pilihan yang bisa kita lalui. Bedanya kalo di game begitu salah pilih bisa diulang, bahkan bisa di-save sebelum memilih jadi kalo salah bisa di-load lagi.
Kalo hidup itu pilihan, kenapa ada yang namanya takdir? Menurut KBBI, takdir berarti ketetapan Tuhan. Kalo dipikir-pikir, dari lahir banyak banget hal-hal yang udah ditetapkan secara “random” buat kita. Kita ga bisa milih mau jadi cowok ato cewek, gabisa milih orangtua kita siapa, ga bisa milih muka kita kayak apa. Seenggaknya itu yang kita tahu sekarang, kalo misalkan sebelum kita lahir ada semacam antrian pembagian muka gitu, udah ga jadi urusan.
Entah kenapa terlalu banyak hal yang terjadi secara “kebetulan” yang orang bilang itu takdir. Akhirnya timbul satu pemikiran “Apa pilihan yang kita ambil itu sepenuhnya pilihan kita?”. Mungkin ga sih pilihan kita itu udah fixed? Bahwa kita sebenernya udah ditakdirkan untuk milih itu, kita aja yang ga pernah ngerasa. Ibarat film, Tuhan itu sutradaranya dan kita aktornya. Dan kebanyakan orang ga sadar kalo mereka itu aktornya. Jadi mungkin kalo hidup dianalogikan jadi sebuah film atau acara TV, pasti Hidup itu semacam Spontan, atau Just For Laugh.
Dan ketika kebanyakan orang ga sadar kalo mereka itu aktor sambil meneruskan perannya masing-masing, gue malah berhenti di sini sambil mempertanyakan peran gue sendiri. He’s gonna get mad at me.
Norman Wijayanto (via normanperspective)